Rabu, 28 Oktober 2026 Berita Terkini & Terpercaya
Wisata Kita ChatWisata Kita Chat
Wisata Kita Chat - Your source for the latest articles and insights
Beranda › Di Stasiun Tugu, Saya Belajar Traveling Tanpa Buru...

Di Stasiun Tugu, Saya Belajar Traveling Tanpa Buru-Buru

Pensiunan justru paling pas traveling pelan-pelan. Ini cerita saya di Jogja dan pelajaran soal menikmati perjalanan tanpa dikejar jadwal.

Di Stasiun Tugu, Saya Belajar Traveling Tanpa Buru-Buru

Beberapa bulan setelah saya resmi pensiun, anak saya ngajak jalan-jalan ke Jogja. Katanya, "Bapak udah nggak ada jadwal kantor, coba deh liburan yang nggak buru-buru." Saya cuma ketawa. Selama tiga puluh tahun kerja, liburan saya selalu hitungan jam. Pagi berangkat, malam balik, foto-foto, selesai. Jadi waktu dia bilang gitu, saya bingung sendiri: memangnya liburan bisa nggak buru-buru?

Jawabannya ternyata bisa. Dan tempat saya belajar soal itu justru bukan di candi atau pantai, tapi di Stasiun Tugu, Yogyakarta, sambil menunggu kereta yang telat empat puluh menit.

Kereta Telat yang Justru Menyelamatkan Liburan

Waktu itu kami sudah selesai tiga hari di Jogja. Rencananya pulang sore naik kereta. Tapi begitu sampai stasiun, papan informasi menunjukkan kereta kami delay. Saya langsung panik. Refleks orang kantoran, mungkin. Saya cek HP, cari jadwal alternatif, hitung-hitung apakah bisa ganti tiket.

Baca juga: Transformasi Senayan: Dari Hotel Tua ke Destinasi Wisata Kelas Dunia

Anak saya cuma bilang, "Santai, Pak. Duduk aja dulu."

Dan di situlah saya sadar sesuatu. Selama tiga hari di Jogja, saya sebenarnya hampir nggak pernah benar-benar duduk. Selalu ada target: harus lihat ini, harus foto di situ, harus sampai sini sebelum jam sekian. Padahal saya sudah pensiun. Nggak ada rapat besok pagi. Nggak ada laporan yang harus dikirim.

Yang saya bawa pulang dari Jogja bukan cuma oleh-oleh bakpia, tapi kebiasaan baru: berhenti menghitung waktu, mulai menghitung momen.

Kami akhirnya duduk di bangku panjang stasiun, beli teh hangat, dan ngobrol ngalor-ngidul. Anak saya cerita soal teman-temannya, saya cerita soal masa muda saya dulu naik kereta ekonomi ke Surabaya. Empat puluh menit delay itu jadi salah satu bagian paling saya ingat dari seluruh perjalanan. Lucu, ya.

Pelajaran soal Traveling untuk Kita yang Sudah Pensiun

Dari pengalaman itu, ada beberapa hal yang saya ubah dari cara saya traveling. Mungkin kamu juga bisa coba, apalagi kalau sudah nggak terikat jam kerja seperti dulu.

1. Kurangi target, tambah jeda

Dulu saya bisa masukkan lima tempat wisata dalam sehari. Sekarang, dua tempat sehari sudah lebih dari cukup. Sisanya buat duduk di warung kopi, ngobrol sama warga lokal, atau sekadar lihat-lihat pasar pagi. Justru dari situ saya dapat cerita yang nggak pernah saya dapat waktu traveling ala kantoran dulu.

Di Jogja, saya sempat ngobrol hampir setengah jam sama penjual gudeg langganan. Dia cerita soal anaknya yang kuliah di Bandung, soal harga beras yang naik-turun, soal kenapa gudegnya dimasak semalaman. Hal-hal kecil begini yang bikin sebuah tempat terasa hidup, bukan cuma jadi latar foto.

2. Pilih penginapan yang dekat, bukan yang murah

Ini mungkin agak berbeda dari tips traveling kebanyakan. Waktu masih muda, saya rela menginap jauh dari pusat kota asal murah. Sekarang, lutut saya nggak sekuat dulu. Lebih baik bayar sedikit lebih mahal tapi bisa jalan kaki ke mana-mana. Hemat tenaga itu lebih berharga daripada hemat seratus ribu.

Kami akhirnya nginep di penginapan kecil dekat Malioboro. Nggak mewah, tapi paginya saya bisa jalan kaki ke pasar Beringharjo sebelum ramai. Pemandangan itu — pasar yang baru buka, pedagang menata dagangan, aroma rempah — nggak akan saya dapat kalau saya masih sibuk mengejar jadwal.

Soal Rasa Cemas yang Sering Datang Duluan

Saya jujur saja: sebagai orang yang sudah nggak muda, rasa cemas itu sering datang duluan sebelum berangkat. Takut kecapekan, takut sakit di jalan, takut repot. Wajar, kok. Tapi saya belajar satu hal: rasa cemas itu biasanya lebih besar di kepala daripada kenyataannya.

Yang penting, siapkan saja hal-hal dasar. Bawa obat rutin, simpan nomor darurat, pilih rute yang nggak terlalu ekstrem, dan jangan malu bilang "saya butuh istirahat" ke teman jalan. Selebihnya, nikmati saja. Badan kita mungkin sudah nggak sekuat dua puluh tahun lalu, tapi kesabaran dan rasa syukur kita justru jauh lebih banyak sekarang.

Anak saya sempat bilang satu kalimat yang saya ingat sampai sekarang: "Bapak dulu traveling buat istirahat dari kerja. Sekarang traveling buat menikmati hidup."

Dan saya rasa, itu benar. Traveling di masa pensiun bukan soal seberapa jauh atau seberapa banyak tempat yang dikunjungi. Ini soal punya waktu untuk benar-benar ada di tempat itu. Duduk, melihat, mendengar, dan pulang dengan cerita — bukan cuma dengan foto.

Jadi kalau kamu sedang merencanakan perjalanan berikutnya, coba deh sekali-kali nggak bikin jadwal terlalu padat. Siapa tahu, kereta yang telat atau hujan yang bikin rencana berubah justru jadi bagian paling berkesan dari liburanmu. Seperti teh hangat saya di Stasiun Tugu itu.

Tags: travel pensiunan traveling santai wisata jogja perjalanan pelan tips liburan lansia